https://locana.id/index.php/JTAM/issue/feedLOCANA2026-06-24T09:13:18+07:00Ahsani Taqwiemahsanitaqwiem@ulm.ac.idOpen Journal Systems<p><strong>LOCANA</strong> adalah Jurnal yang diterbitkan oleh Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lambung Mangkurat sejak April 2018. Jurnal ini terbit dua kali dalam setahun (Juni dan Desember). LOCANA fokus untuk menyebarluaskan hasil penelitian tentang pendidikan, pembelajaran kebahasaan dan kesastraan, keterampilan berbahasa dan bersastra, serta penelitian bahasa dan sastra Indonesia secara umum.</p> <p> </p> <p>LOCANA is a Journal published by the Indonesian Language and Literature Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, Lambung Mangkurat University. This journal is published twice a year (June and December). Locana Journal was first published in April 2018. LOCANA is expected to be a medium for disseminating knowledge touching the fields of education, language, literature, language skills, and Indonesian language and literature in general.</p>https://locana.id/index.php/JTAM/article/view/436MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA MELALUI STRATEGI ROLE CARD PADA MURID KELAS VIII B SMPN 7 BANJARMASIN2026-05-22T20:47:00+07:00Akhmad Syawaluddinsawala53@gmail.comEka Rahayusawala53@gmail.comNoor Cahayacahayafkip@ulm.ac.idRusdianasawala53@gmail.com<p><strong>Abstrak</strong><br />Penelitian ini bertujuan meningkatkan keterampilan berbicara murid kelas VIII B SMPN 7 Banjarmasin melalui strategi <em>role card</em>. Penelitian dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan murid dalam menyampaikan pendapat, memberikan tanggapan, dan berbicara saat presentasi. Penelitian menggunakan metode <em>mix methods</em> dalam bentuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus, meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Subjek penelitian berjumlah 42 murid. Data diperoleh melalui observasi dan penilaian keterampilan berbicara pada aspek partisipasi, cara penyampaian, dan kepercayaan diri. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan keterampilan berbicara murid setelah penerapan strategi <em>role card</em>. Pada siklus I, murid berkategori sangat berkembang sebesar 24%, sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 71%. Strategi <em>role card</em> mampu meningkatkan keaktifan, kepercayaan diri, dan kemampuan murid dalam menyampaikan gagasan dengan jelas. </p> <p><em><strong>Abstract</strong></em> <br /><em>This study aims to improve the speaking skills of class VIII B students of SMPN 7 Banjarmasin </em><em>through the role card strategy. The research was motivated by the low ability of students to express </em><em>opinions, provide responses, and speak during presentations. The study used a mixed methods method </em><em>in the form of Classroom Action Research (CAR) which was carried out in two cycles, including</em><em> planning, implementation, observation, and reflection. The research subjects were 42 students. Data</em><em> were obtained through observation and assessment of speaking skills in the aspects of participation,</em><em> delivery methods, and self-confidence. The results showed an increase in students' speaking skills after</em><em> the implementation of the role card strategy. In the first cycle, students were categorized as very</em><em> developed by 24%, while in the second cycle it increased to 71%. The role card strategy was able to</em><em> increase students' activeness, self-confidence, and ability to convey ideas clearly.</em></p>2026-06-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Akhmad Syawaluddin, Eka Rahayu, Noor Cahaya, Rusdianahttps://locana.id/index.php/JTAM/article/view/329TOPONIMI DESA DI KECAMATAN KUSAN HULU KABUPATEN TANAH BUMBU2025-10-03T10:37:49+07:00Amalia Puteri2110116320011@mhs.ulm.ac.idSabhansabhansaberi@gmail.comLita Luthfiyantilitaluthfiya@gmail.com<p><strong>Abstrak</strong><br /><br />Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kategorisasi toponimi dan makna kultural desa di Kecamatan Kusan Hulu, Kabupaten Tanah Bumbu berdasarkan cerita masyarakat setempat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi langsung dan wawancara terhadap sebelas narasumber dari sebelas desa. Toponimi dikaji melalui pendekatan antropolinguistik dan semantik untuk memahami peran bahasa dan makna dalam penamaan tempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari sebelas desa terdapat lima desa termasuk dalam aspek perwujudan, tiga desa dalam aspek kemasyarakatan, dan tiga desa dalam aspek kebudayaan. Sementara itu, makna kultural penamaan desa ditinjau dari tujuh unsur kebudayaan universal, dengan dominasi unsur bahasa, sistem mata pencaharian, serta sistem religi dan kesenian. Penelitian ini menegaskan bahwa toponimi tidak hanya berkaitan dengan nama tempat, tetapi juga sarat akan nilai budaya lokal masyarakat.<br /><br /></p> <p><strong><em>A</em></strong><strong><em>bstract</em></strong></p> <p><em>This study aims to describe the categorization of toponymy and the cultural meanings of village names in Kusan Hulu District, Tanah Bumbu Regency, based on local community narratives. A qualitative approach was employed, with data collected through direct observation and interviews with eleven informants from eleven villages. The toponymic analysis was conducted using antropolinguistic and semantic approaches to explore the roles of language and meaning in place naming. The findings reveal that out of the eleven villages, five fall into the category of embodiment, three into social aspects, and three into cultural aspects. The cultural meanings behind the village names are examined through the lens of seven universal elements of culture, with dominant elements including language, livelihood systems, and religious and artistic expressions. This study affirms that toponymy is not merely about naming places, but is deeply embedded with the local community’s cultural values. <br /><br /></em></p>2026-06-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Amalia Puteri, Sabhan, Lita Luthfiyantihttps://locana.id/index.php/JTAM/article/view/381EKRANISASI NOVEL JENDELA SERIBU SUNGAI KARYA MIRANDA SEFTIANA DAN AVESINA SOEBLI2025-12-31T01:11:33+07:00Andre Hardiantoandrehardianto101@gmail.comDwi Wahyu Chandra Dewidwi.dewi@ulm.ac.idDewi Alfiantidewialfianti@ulm.ac.id<p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Penelitian ini membahas proses ekranisasi novel <em>Jendela Seribu Sungai</em> karya Miranda Seftiana dan Avesina Soebli ke dalam film garapan Jay Sukmo. Fokus penelitian adalah perbedaan dan persamaan antara novel dan film, khususnya mengenai teks sastra yang ditransformasi menjadi bentuk visual. Tujuannya untuk mengetahui elemen-elemen yang dipertahankan maupun dimodifikasi dalam adaptasi. Metode penelitian yang dipilih berupa kualitatif deskriptif melalui teknik baca, simak, dan catat. Data berupa kutipan novel serta tangkapan layar dan transkrip film, dianalisis secara komparatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya penciutan sebanyak 116 data, penambahan 25 data, dan perubahan variasi 27 data, terutama pada tokoh, alur, serta latar. Penyesuaian ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan medium film. Adaptasi film berhasil mewakili inti cerita dengan menekankan budaya Banjar dan Dayak, nilai pendidikan, kesehatan, dan inklusivitas. Penelitian ini memberi gambaran mengenai kreativitas dalam adaptasi sekaligus kontribusi terhadap kajian sastra dan media.<br /><br /><strong>Abstract</strong> <br /><em>This study discusses the process of adapting the novel Jendela Seribu Sungai by Miranda Seftiana and Avesina Soebli into a film directed by Jay Sukmo. The focus of the study is the differences and similarities between the novel and the film, particularly how the literary text is transformed into a visual form. The aim is to identify the elements that are retained and modified in the adaptation. The research method used is descriptive qualitative with reading, listening, and note-taking techniques. The data, in the form of novel excerpts, screenshots, and film transcripts, are analyzed comparatively. The results show that there are 116 instances of reduction, 25 instances of addition, and 27 instances of variation, mainly in the characters, plot, and setting. These adjustments were made to meet the needs of the film medium. The film adaptation successfully represented the essence of the story by emphasizing Banjar and Dayak culture, educational values, health, and inclusivity. This study provides an overview of creativity in adaptation as well as contributing to literary and media studies.</em></p>2026-06-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Andre Hardianto, Dwi Wahyu Chandra Dewi, Dewi Alfiantihttps://locana.id/index.php/JTAM/article/view/435MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA MELALUI MODEL TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) BERBASIS PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI PADA MURID KELAS VIII C SMPN 7 BANJARMASIN2026-05-21T11:39:41+07:00Anisapeserta.25551@ppg.belajar.idFahimahpeserta.25793@ppg.belajar.idNoor Cahayacahayafkip@ulm.ac.idRusdianarusdiana@belajar.id<p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Penelitian ini bertujuan menjelaskan peningkatan hasil belajar Bahasa Indonesia murid kelas VIII C pada materi “Mengenal Pidato” melalui penerapan model <em>Teams Games Tournament</em> (TGT) berbasis pembelajaran berdiferensiasi. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing meliputi tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian berjumlah 30 murid dengan teknik pengumpulan data berupa tes, observasi, dan dokumentasi yang dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model TGT berbasis pembelajaran berdiferensiasi efektif dalam meningkatkan hasil belajar murid. Mengingat adanya peningkatan hasil belajar baik secara kelompok maupun individu. Nilai rata-rata kelompok meningkat dari 63,75 pada pra-siklus menjadi 91,25 pada siklus II dengan ketuntasan 100%. Sementara itu, nilai rata-rata individu meningkat dari 61,33 menjadi 96 dengan ketuntasan belajar mencapai 100%.<br /><br /></p> <p><strong><em>A</em></strong><strong><em>bstract</em></strong></p> <p><em>This study aims to explain the improvement of Indonesian language learning outcomes of class VIII C students on the topic "Understanding Speech" through the application of the Teams Games Tournament (TGT) model based on differentiated learning. This study is a Classroom Action Research (CAR) which was carried out in two cycles, each including the planning, action, observation, and reflection stages. The research subjects were 30 students with data collection techniques in the form of tests, observations, and documentation which were analyzed quantitatively and qualitatively. The results of the study indicate that the TGT model based on differentiated learning is effective in improving student learning outcomes. Considering the increase in learning outcomes both in groups and individually. The average group score increased from 63.75 in the pre-cycle to 91.25 in cycle II with 100% completeness. Meanwhile, the average individual score increased from 61.33 to 96 with learning completeness reaching 100%.</em></p>2026-06-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Anisa, Fahimah, Noor Cahaya, Rusdianahttps://locana.id/index.php/JTAM/article/view/344EUFEMISME DAN DISFEMISME DALAM BERITA PELECEHAN SEKSUAL PADA PORTAL DARING TRIBUNNEWS.COM2025-10-31T15:22:35+07:00Irhamna irhamnairhamnairhamna01@gmail.comMuhammad Rafiekmrfk@ulm.ac.idMohammad Fatah Yasinfatah.yasin@ulm.ac.id<p><strong>Abstrak</strong></p> <p><br />Penelitian ini berupaya memberikan gambaran mengenai eufemisme serta disfemisme pada berita pelecehan seksual yang dipublikasikan di portal berita daring Tribunnews.com. Pada penelitian ini, pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, menggunakan metode dokumentasi sebagai teknik pengumpulan data. Data yang diperoleh dapat menyerupai kata, frasa, klausa, serta kalimat yang mencerminkan penggunaan eufemisme dan disfemisme dalam berita pelecehan seksual di portal tersebut. Sumber data diambil dari 18 wacana berita yang membahas pelecehan seksual, yang dipublikasikan pada periode Oktober-Desember 2024. Hasil penelitian dari 18 berita, ditemukan adanya penggunaan eufemisme pada 11 berita berjumlah 26 data. Eufemisme yang diperoleh mempunyai referensi benda, bagian tubuh, profesi, aktivitas, serta sifat atau keadaan. Ditemukan juga penggunaan disfemisme dalam 14 berita berjumlah 39 data. Penemuan disfemisme dalam penelitian ini berperan untuk menekankan ketidaknyamanan atau negativitas, mengungkapkan emosi, mengkritik atau mengejek, menunjukkan ketidakpatuhan atau penolakan, dan menciptakan jarak<br /><br /></p> <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>This study attempts to provide an overview of euphemisms and dysphemisms in sexual harassment news published on the online news portal Tribunnews.com. This study employed a descriptive qualitative approach, employing documentation as a data collection technique. The data obtained can resemble words, phrases, clauses, and sentences that reflect the use of euphemisms and dysphemisms in sexual harassment news published on the portal. The data source was taken from 18 news discourses discussing sexual harassment, published between October and December 2024. The results of the study found the use of euphemisms in 11 of the 18 news articles, totaling 26 items. The euphemisms obtained referenced objects, body parts, professions, activities, and characteristics or circumstances. The use of dysphemisms was also found in 14 news articles, totaling 39 items. The findings of dysphemisms in this study play a role in emphasizing discomfort or negativity, expressing emotions, criticizing or mocking, indicating disobedience or rejection, and creating distance.</em></p> <p>.</p>2026-06-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Irhamna irhamna, Muhammad Rafiek, Mohammad Fatah Yasinhttps://locana.id/index.php/JTAM/article/view/392Persuasi pada Debat Calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Tahun 20242026-01-29T16:49:53+07:00Muhammad Wahyudin2110116210005@mhs.ulm.ac.idJumadijumadi@ulm.ac.id<p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan wujud, teknik, dan fungsi persuasi dalam debat tersebut, sehingga dapat diketahui strategi komunikasi yang digunakan oleh para pasangan calon. Peneliti menggunakan metode kualitatif dengan teknik dokumentasi dan simak catat. Data dikumpulkan melalui analisis ujaran, kalimat, atau wacana yang terdapat dalam video youtube. Sumber data dalam penelitian ini didapatkan langsung melalui video debat cagub dan cawagub DKI Jakarta tahun 2024 dari kanal <em>youtube</em> “Narasi Newsroom”. Hasil penelitian menunjukkan adanya penggunaan wujud, teknik, serta fungsi persuasi oleh para pasangan calon. Wujud persuasi yang digunakan berupa mengajak, memohon, memerintah, menyarankan, dan melarang. Teknik persuasi mencakup teknik rasionalisasi, identifikasi, sugesti, konformitas, kompensasi, penggantian, dan proyeksi. Fungsi persuasi meliputi fungsi mengukuhkan atau memperkuat sikap, fungsi mengubah sikap, fungsi menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu, dan fungsi memperkenalkan etika.</p> <p><strong><em>A</em></strong><strong><em>bstract</em></strong></p> <p><em>This study aims to describe the use of the form, technique, and function of persuasion in the debate, so that the communication strategies used by the candidate pairs can be known. The researcher uses a qualitative method with documentation techniques and looks at notes. Data was collected through an analysis of speech, sentences, or discourse contained in youtube videos. The source of data in this study was obtained directly through the 2024 Jakarta gubernatorial and gubernatorial debate videos from the " Narasi Newsroom" youtube channel. The results of the study show the use of forms, techniques, and persuasion functions by the candidate pairs. The form of persuasion used is in the form of invite, begging, commanding, suggesting, and prohibiting. Persuasion techniques include techniques of rationalization, identification, suggestion, conformity, compensation, substitution, and projection. The function of persuasion includes the function of strengthening or strengthening an attitude, the function of changing an attitude, the function of moving a person to do something, and the function of introducing ethics.</em></p>2026-06-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Muhammad Wahyudin, Jumadihttps://locana.id/index.php/JTAM/article/view/441NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU CERITA RAKYAT KALIMANTAN SELATAN KARYA H. YUSTAN AZIDDIN2026-06-03T10:49:43+07:00Musdalifah1810116120006@mhs.ulm.ac.idRusma Noortyanirusmanoortyani@ulm.ac.idFaradinafaradina.fdy@gmail.com<p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai pendidikan karakter yang termuat dalam buku <em>Cerita Rakyat Kalimantan Selatan</em> karya H. Yustan Aziddin. Pendidikan karakter dipandang penting sebagai upaya menanamkan nilai-nilai luhur yang mencakup aspek pengetahuan, kesadaran, dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif dengan sumber data berupa teks dalam buku tersebut. Data yang dikumpulkan meliputi kata, frasa, klausa, kalimat, maupun paragraf yang memuat nilai pendidikan karakter, melalui teknik studi dokumen dan dianalisis dengan metode deskriptif analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai pendidikan karakter dalam buku ini mencerminkan berbagai karakter positif, di antaranya religius, jujur, toleransi, disiplin, kreatif, tanggung jawab, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat atau komunikatif, cinta damai, suka membaca, peduli sosial, dan kerja keras.</p> <p> </p> <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>This study aims to describe the values of character education contained in the book Folklore of South Kalimantan by H. Yustan Aziddin. Character education is considered essential as an effort to instill noble values that encompass aspects of knowledge, awareness, and actions in everyday life. This research employs a descriptive-qualitative approach with data sources taken from the text of the book. The collected data include words, phrases, clauses, sentences, and paragraphs that reflect character education values, obtained through document study techniques and analyzed using descriptive analysis methods. The results show that the character education values in this book represent various positive traits, including religiosity, honesty, tolerance, discipline, creativity, responsibility, independence, democracy, curiosity, nationalism, patriotism, appreciation of achievement, friendliness or communicativeness, love of peace, reading interest, social care, and hard work.</em></p>2026-06-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Musdalifah, Rusma Noortyani, Faradinahttps://locana.id/index.php/JTAM/article/view/376MAJAS PERBANDINGAN DALAM ANTOLOGI PUISI KULINER “GABIN BARANDAM”2025-12-22T02:17:19+07:00qusnul aqidahtul anggiqusnulaqidahtul@gmail.comAhsani Taqwiemahsanitaqwiem@ulm.ac.idFaradinafaradina@ulm.ac.id<p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis serta mendeskripsikan makna majas perbandingan yang terdapat dalam antologi puisi kuliner <em>Gabin Barandam</em>. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis deskriptif yang dikaji melalui perspektif stilistika untuk mengungkap gaya bahasa penyair. Data penelitian berupa larik-larik puisi dikumpulkan melalui teknik studi dokumentasi dan pembacaan intensif terhadap teks. Hasil penelitian menunjukkan ditemukan tiga jenis majas perbandingan, yaitu personifikasi, metafora, dan simile. Personifikasi menjadi majas paling dominan dengan 64 kemunculan, diikuti simile sebanyak 16 kali, dan metafora 12 kali. Analisis makna mengungkapkan bahwa elemen kuliner digunakan secara simbolis untuk merefleksikan realitas sosial, ekonomi, spiritual, dan kearifan lokal. Majas-majas tersebut berfungsi menghidupkan suasana imajinatif sekaligus memperkuat pesan mengenai kenangan, kebersamaan, kritik sosial, serta pelestarian identitas budaya melalui citra rasa dan aroma.<br /><br /></p> <p><em><strong>Abstract</strong></em></p> <p><em>This study aims to identify the types and describe the meaning of comparative figures of speech contained in Gabin Barandam's culinary poetry anthology. This study uses a qualitative method with a descriptive analysis approach examined through a stylistic perspective to reveal the poet's language style. Research data in the form of lines of poetry were collected through documentation study techniques and intensive reading of the text. The results show the discovery of three types of comparative figures of speech, namely personification, metaphor, and simile. Personification is the most dominant figure of speech with 64 occurrences, followed by simile with 16 times, and metaphor with 12 times. The analysis of meaning reveals that culinary elements are used symbolically to reflect social, economic, spiritual, and local wisdom realities. These figures of speech function to enliven the imaginative atmosphere while strengthening messages about memories, togetherness, social criticism, and preservation of cultural identity through the image of taste and aroma.</em></p>2026-06-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 qusnul aqidahtul anggi, Ahsani Taqwiem, Faradinahttps://locana.id/index.php/JTAM/article/view/399ALIH WAHANA NASKAH DEMANG LEHMAN KE PERTUNJUKKAN TEATER2026-02-24T08:48:16+07:00siti adijah2110116120004@mhs.ulm.ac.idDewi Alfiantidewialfianti@ulm.ac.idAhsani Taqwiemahsanitaqwiem@ulm.ac.id<p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan proses alih wahana dramatisasi naskah drama <em>Demang Lehman</em> karya Adjim Arijadi ke dalam pertunjukan teater oleh KS3B Kalimantan Selatan dengan menelaah bentuk penambahan dan penciutan yang terjadi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode komparatif. Sumber data meliputi naskah drama <em>Demang Lehman</em> dan dokumentasi pementasan teater. Analisis dilakukan dengan membandingkan unsur teks drama dan unsur pementasan berdasarkan teori alih wahana Pamusuk Eneste. Hasil penelitian menunjukkan adanya penambahan berupa introduksi pementasan, tokoh tentara Belanda, penambahan dialog, serta improvisasi aktor untuk memperkuat situasi dramatik dan karakter. Penciutan dilakukan melalui penghilangan beberapa tokoh dan adegan, penyederhanaan alur, serta pengurangan dialog demi efektivitas pertunjukan. Temuan ini menegaskan bahwa dramatisasi merupakan proses penafsiran kreatif yang menyesuaikan gagasan teks dengan karakteristik media teater tanpa menghilangkan esensi cerita.</p> <p><strong><em>Abstract</em></strong><em>.</em></p> <p><em>This study aims to describe the process of dramatization as a form of adaptation of the drama script Demang Lehman by Adjim Arijadi into a theatrical performance staged by KS3B of South Kalimantan by examining the forms of additions and reductions that occur. The research employs a descriptive qualitative approach with a comparative method. The data sources consist of the Demang Lehman drama script and documentation of the theatrical performance. Data analysis is conducted by comparing textual elements of the script with performative elements of the stage production based on Pamusuk Eneste’s adaptation theory. The findings reveal additions in the form of a performance introduction, the inclusion of Dutch soldier characters, additional dialogues, and actor improvisations to strengthen dramatic situations and characterization. Reductions are carried out through the elimination of certain characters and scenes, plot simplification, and dialogue reduction to enhance performance effectiveness. These findings indicate that dramatization is a creative interpretative process that adapts textual ideas to the characteristics of theatrical media without eliminating the essence of the story.</em></p>2026-06-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 siti adijah, Dewi Alfianti, Ahsani Taqwiemhttps://locana.id/index.php/JTAM/article/view/377IDEOLOGI KEKUASAAN DAN KESENJANGAN KELAS SOSIAL DALAM NOVEL SI ANAK BADAI KARYA TERE LIYE2025-12-23T10:14:49+07:00Siti Qur'anisitiqurani01052000@gmail.comMuhammad Rafiekmrfk@ulm.ac.idSainul Hermawansainulhermawan@ulm.ac.id<p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Penelitian ini bertujuan mengetahui bentuk ideologi kekuasaan dan kesenjangan kelas sosial antara kelas atas dan kelas bawah, serta mengetahui bentuk perjuangan kelas bawah melawan kesenjangan sosial yang terdapat dalam novel<em> Si Anak Badai</em> karya Tere Liye. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Sumber data diperoleh dari kutipan kalimat dan paragraf dalam novel <em>Si Anak Badai</em> karya Tere Liye. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan studi kepustakaan dan pencatatan. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan adanya bentuk ideologi kekuasaan yang dilakukan oleh kelas atas terhadap kelas bawah, yaitu otoritarianisme, feodalisme, dan kapitalisme. Selain itu ditemukan kesenjangan kelas sosial antara kelas atas dan kelas bawah, yakni antara pejabat tinggi kota provinsi dan masyarakat pesisir Kampung Manowa. Terdapat pula bentuk perjuangan kelas yang dilakukan oleh kelas bawah untuk melawan kekuasaan kelas atas, mulai dari penolakan hingga aksi nyata.</p> <p> </p> <p><strong><em>A</em></strong><strong><em>bstract</em></strong></p> <p><em>This research aims to determine the forms of power ideology and social class gap between the upper class and the lower class, as well as to identify the lower class struggle against social class inequality contained in the novel Si Anak Badai by Tere Liye. The research method used is a qualitative descriptive method. The data source was obtained from excerpts of sentences and paragraphs in the novel Si Anak Badai by Tere Liye. Data collection techniques in this study used literature study and recording. Data analysis was carried out with descriptive analysis techniques. The results show that there are forms of power ideology carried out by the upper class against the lower class, namely authoritarianism, feudalism, and capitalism. In addition, there is social class inequality between the upper and lower classes, namely between high-ranking provincial city officials and the coastal community of Manowa village. There is also a form of class struggle carried out by the lower class to fight against the rule of the upper class, ranging from refusal to real action.</em></p>2026-06-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Siti Qur'ani, Muhammad Rafiek, Sainul Hermawan